Perbandingan Kemajuan Bioteknologi negara maju dengan Indonesia

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bioteknologi (biotek) merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang pemanfaatan makhluk hidup menghasilkan barang atau jasa untuk kepentingan hidup manusia. Makhluk hidup yang dimanfaatkan dapat berupa makhluk hidup secara utuh atau bagian dari makhluk hidup, seperti sel, jaringan, dan enzim.
Sebenarnya, prinsip dasar bioteknologi telah diterapkan sejak ribuan tahun yang lalu. Hanya saja, pada masa itu para leluhur manusia tidak mengenalnya sebagai bioteknologi. Istilah bioteknologi ini baru populer muncul sekitar tahun 1970-an, yaitu setelah para ilmuwan berhasil melakukan rekayasa genetika. Sejak tahun tersebut hingga sekarang istilah bioteknologi semakin popular yang diikuti dengan munculnya berbagai produk penemuan di bidang bioteknologi ini. Produk-produk tersebut berkembang pada semua bidang, seperti; pertanian, makanan, industri, kesehatan dan sebagainya.
Dari sekian banyak produk bioteknologi, para ahli sudah mengelompokan dengan dasar yang beragam. Wikipedia (2010), mengelompokannya atas bioteknologi putih (industri dan energi), bioteknologi merah (kesehatan), bioteknologi hijau (pertanian dan peternakan) dan bioteknologi biru (perairan). Ada juga yang mengelompokan melalui sejarahnya. Bioteknologi generasi pertama, generasi kedua, generasi ketiga dan generasi baru (Defri,2009). Namun pengelompokan yang umum digunakan adalah berdasarkan perkembangan proses dan peralatan yang digunakan. Sebagian dimasukan ke dalam bioteknologi konvensional dan sebagian lainnya dimasukan ke dalam bioteknologi modern.
Prinsip bioteknologi konvensional adalah melakukan praktik bioteknologi dengan cara dan peralatan yang sederhana, memanfaatkan organiseme secara utuh, dan didapatkan melalui pengalaman yang diturun-temurunkan. Adapun bioteknologi modern lebih banyak menerapkan prinsip rekayasa genetika dengan peralatan modern. Organisme hanya dilibatkan sebagian dari anggota tubuhnya atau produknya saja. Selain itu, proses penerapan membutuhkan pengetahun khusus yang didapatan melalui proses akademisi.
Bioteknologi tanaman merupakan salah satu penerapan prinsip-prinsip bioteknologi dseperti iatas pada suatu tanaman dengan tujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas dari tanaman. Bioteknologi tanaman ini ada yang bersifat konvensional (tradisional) ataupun yang bersifat rekayasa genetika (modern).
Perkembangan bioteknologi tanaman telah melahirkan banyak produk yang bermanfaat bagi manusia. Perkembangan tersebut juga berbeda pada setiap negara. Negara Indonesia dengan negara-negara maju di dunia memiliki perbedaan tingkat pengetahuan dan teknologi sehingga menyebabkan perkembangan bioteknologi tanamannya juga berbeda. Oleh karena itu, penulisan makalah ilmiah ini berupaya untuk mengungkapkan sejarah dan perkembangan bioteknologi tanaman Indonesia dengan membandingkan perkembangan di beberapa negara maju di dunia, seperti; Amerika, Eropa dan China (Asia).

1.2. Rumusan Masalah
Beranjak dari latar belakang diatas maka penulisan makalah ilmiah akan membahas :
1. Bagaimanakah sejarah dan perkembangan bioteknologi tanaman negara maju dan Indonesia
2. Apa saja produk-produk bioteknologi tanaman yang terdapat di Indonesia dan beberapa negara maju di dunia ?
3. Apa saja faktor penting yang akan mempengaruhi kemajuan bioteknologi tanaman di Indonesia.

1.3. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi tugas mata kuliah Bioteknologi pada program Pasca Sarjana Biologi Universitas Andalas Padang.
2. Mengetahui sejarah dan perkembangan bioteknologi tanaman negara maju dan Indonesia.
3. Mengetahui produk-produk bioteknologi tanaman yang terdapat di Indonesia dan beberapa negara maju di dunia
4. Mengetahui apa saja faktor penting yang akan mempengaruhi kemajuan bioteknologi tanaman Indonesia.
BAB II. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
BIOTEKNOLOGI TANAMAN NEGARA MAJU DAN INDONESIA

2.1 . Sejarah Bioteknologi Tanaman

Bioteknologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang pemanfaatan makhluk hidup (meliputi bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup tersebut (meliputi enzim, alkohol, dan sebagainya) dalam proses produksi menghasilkan barang dan jasa untuk kepentingan manusia ( Evi, 2009). Jika pengertian bioteknologi tersebut dikontekskan pada tanaman maka pengertiannya adalah pemanfaatan tanaman ataupun produk dari tanaman dalam proses produksi menghasilkan barang dan jasa untuk kepentingan manusia.
Sebenarnya, kemunculan bioteknologi (biotek) tanaman tidak terlepas dari sejarah biotek itu sendiri yang sudah diterapkan sejak ribuan tahun yang lalu. Walaupun istilah bioteknologi baru populer muncul tahun 1970-an pasca penemuan teknik rekayasa genetika namun prinsip bioteknologi sudah dikembangkan sejak lama. Pada tahun 8000 SM, Bangsa Babylonia, Mesir dan Romawi sudah melakukan pengumpulan benih dan penyeleksiannya untuk meningkatkan kualitas pertanian dan ternak. (Diah, 2007).
Perkembangan biotek tanaman juga tidak terlepas dari keaktifan para ahli generasi awal untuk melakukan pengumpulan berbagai jenis tanaman sejak tahun 1500 M. Penemuan sel tahun 1665 M oleh Robert Hooke dengan menggunakan mikroskop telah semakin meningkatkan motivasi para ahli mengembangkan pengetahuan tentang makhluk hidup, salah satunya tumbuhan. Martias Schleiden memperkaya pengetahuan tentang sel tumbuhan dengan organel-organel yang terdapat di dalamnya. Mikroorganisme pun mulai ditemukan pada tahun 1880 M. Gregor Johan Mendel (1856) pada akhirnya berhasil menemukan prinsip-prinsip hibridisasi (persilangan) pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum) yang merupakan salah satu produk bioteknologi tanaman . Tahun 1865, dia menyempurnakan penemuannya melalui prinsip-prinsip pewarisan sifat (Diah, 2007).
Para ahli menganggap bahwa bioteknologi tanaman yang tertua yang masih berkembang sampai saat ini adalah teknik budidaya pertanian. Kegiatan pertanian merupakan salah satu bentuk pengembangan prinsip bioteknologi tanaman dengan memanfaatkan organisme yang secara total.
Sejak zaman awal peradaban manusia, kegiatan pertanian sudah berlangsung. Para ahli prasejarah sepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang di Timur Tengah sekitar 12.000 tahun yang lalu, meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat memanjang ke arah barat hingga daerah Suriah dan Yordania. Buktinya adalah bekas-bekas peninggalan budidaya tanaman biji-bijan (serealia, terutama gandum) dan polong-polongan. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es di era Pleistosen, daerah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi untuk dimulainya pertanian. Pertanian semakian dikenal setelah mencapai kebudayaan batu muda (neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan. (Wikipedia, 2010)
Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat (Eropa dan Afrika Utara) yang saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut (millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat tahun 3000 SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda. Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga sudah dikenal manusia sejak lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000 tahun SM) dan Yunani Kuno (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun. (Wikipedia, 2010).
Meskipun prinsip-prinsip bioteknologi tanaman sudah berlangsung lama namun pemakaian istilah bioteknologi belum muncul pada masa itu. Pengenalan istilan bioteknologi, baru diperkenalkan pada tahun1919 M oleh Karl Ereky, seorang Insiyur asal Hongaria (Diaz, 2007). Istilah ini semakin populer pasca penemuan teknik rekayasa genetika pada tahun 1970-an. (Priadi, 2009)
2.2. Perkembangan Biotenologi Tanaman Di Negara Maju
Pada tahun 1992 dianggap sebagai awal revolusi bioteknologi di dunia. Produk-produk bioteknologi pangan, pertanian, industri, medis dan sebagainya semakin banyak bermunculan. Di bidang pertanian, tanaman transgenik yang merupakan produk rekayasa genetika menjadi sesuatu hal yang tak asing lagi hingga sekarang.
Menurut Fred Gale et al ( 2003), ada empat negara yang memiliki rangking tertinggi dalam memajukan bioteknologi tanaman. Negara tersebut secara berturut-turut adalah Amerika Serikat (USA), Canada, Argentina dan China. Posisi Eropa disini dianggap masih rendah dibandingkan empat negara tersebut. Eropa lebih mengunggulkan bioteknologi industri dan kesehatan dibandingkan tanaman. Dalam konteks Eropa, tingkat kemajuan bioteknologi tanaman bukan didominasi oleh negara-negara maju seperti Inggris, Prancis dan Jerman tapi justru didominasi peningkatan dari negara-negara yang tergabung dalam kelompok Nordik (Denmark, Finlandia dan Swedia) (Reis et al, 2004).
Hasil penelitian EPOHITE, pada tahun 1995 hingga 2000 negara-negara anggota bioteknologi eropa (15 negara) mengalami pertumbuhan luar biasa dalam perkembangan penelitian tentang biotek lingkungan dan biotek industri. Pertumbuhan yang signifikan terjadi pada produk pabrik sel. Negara Inggris dan Jerman dianggap negara yang paling banyak memiliki perusahaan yang berkecimpung di dalam bioteknologi tersebut. Namun ada sesuatu yang hilang dalam perkembangan bioteknologi di beberapa negara anggota bioteknologi Eropa yaitu; pengembangan bioteknologi tanaman. (Reis et al, 2004).
Perkembangan biotek tanaman lebih banyak dilakukan melalui produk teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan DNA rekombinan untuk menghasilkan tanaman yang memiliki sifat dan produk unggul dengan zat gizi yang lebih. Produk tersebut dikenal dengan istilah produk transgenik. Produk ini dalam perkembangannya masih mendapatkan kecaman akibat memunculkan organisme baru di alam. Beberapa produk-produk transgenik yang sudah dihasilkan dari proses rekayasa genetika adalah :
1. Jagung resisten hama serangga
2. Kapas resisten hama serangga
3. Pepaya resisten virus
4. Enzim pemacu produksi susu pada sapi
5. Padi mengandung vitamin A
6. Pisang mengandung vaksin hepatitis
Perkembangan biotek tanaman tidak hanya berimplikasi positif tapi sisi negatif munculnya berbagai kekuatiran mengkonsumsi tanaman transgenik yang dianggap membahayakan kesehatan dan lingkungan. Mengatasi persoalan tersebut, organisasi Food and Drug Administration (FAD) yang didirikan di Amerika Serikat sebagai organisasi yang menyeleksi setiap produk-produk transgenik yang akan di pasarkan ke dunia. Pada tahun 1992 ini, FDA menyetujui produk makanan rekayasa genetika pertama kali yang aman untuk dikonsumsi yaitu; tomat “flavor saver” (Junaedi, 2010).
Bermunculannya produk-produk transgenik ke pasaran dunia sebagai produk ekspor negara-negara maju menjadikan FDA semakin meningkatkan pengawasannya. Pada tahun 2001, FDA membuat aturan baru yang lebih disiplin dan formalitas. Bagi perusahaan yang hendak memasarkan produk transgeniknya terlebih dahulu harus mengajukan ke FDA untuk diteliti dan diuji selama 120 hari sebelum di pasarkan. Serta perusahaan juga wajib menyertakan bukti bahwa produk yang dipasarkan tidak berbahaya atau tidak berbahaya dari produk sebelumnya. (Junaedi, 2010).
2.3. Masuknya Bioteknologi Tanaman Ke Indonesia
Wikipedia (2010) menyatakan bahwa budidaya pertanian yang merupakan salah satu produk biotek tanaman tertua sudah masuk sejak 3000 SM. Sedangkan menurut Balai Penelitian Perkebunan Indonesia (2009), bioteknologi tanaman mulai fokus dikembangkan di Indonesia pada masa Belanda melalui organisasi Lembaga Penelitian Perkebunan yang berkedudukan di Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor, saat ini bernama Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.
Pada tahun 1901 sampai tahun 1916, di Pulau Jawa didirikan enam lembaga penelitian perkebunan, dua di antaranya berada di Bogor yaitu Algemeen Profestation voor Thee, Profestation voor Rubber. Gedung yang berdiri megah dengan model yang sangat spesifik di Jalan Taman Kencana No. 1 dibangun pada tahun 1926. Gedung tersebut merupakan tonggak sejarah kebesaran lembaga penelitian perkebunan di Pulau Jawa selama masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1933 dilakukan penciutan dari enam menjadi tiga lembaga penelitian yaitu Profestation West Java, Profestation Midden-en Oost Java dan Besoekisch Profestation. Ketiganya semula dikelola oleh Algemeen Landbouw Syndicat (ALS) namun kemudian diserahkan kepada Centrale Vereniging tot Beheer van Profestation voor de Overjarige Cultuur in Indonesie yang lebih dikenal dengan sebutan Centrale Profestation Vereniging (CPV).(BPPI, 2019)
Dalam perjalanannya, Profestation West Java diubah menjadi Profestation der CPV Bogor, Profestation Midden-en Oost Java menjadi Profestaion der CPV Malang, dan Besoekisch Profestation menjadi Profestation der CPV Jember. Pada tahun 1952 ketiga lembaga penelitian tersebut di atas digabung menjadi satu yakni Profestation der CPV yang berkedudukan dan berpusat di Bogor, dengan Jember sebagai cabangnya.
Selanjutnya sehubungan dengan pengambil-alihan perusahaan-perusahaan milik Belanda oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1957 maka Profestation der CPV diubah namanya menjadi Balai Penyelidikan Perkebunan Besar berkedudukan di Bogor dengan cabangnya di Jember. Bersamaan dengan itu Indonesisch Instituut voor Rubber Onderzoek/INIRO yang berkedudukan di Jalan Salak No. 1 Bogor (berdekatan dengan gedung CPV) diubah namanya menjadi Balai Penyelidikan dan Pemakaian Karet. Pada tahun 1968 kedua lembaga penelitian tersebut digabung dan namanya diganti menjadi Balai Penelitian Perkebunan Bogor.
Mulai tahun 1987 Balai Penelitian Perkebunan Bogor berada di bawah pengelolaan Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia (AP3I). Pada tahun 1989 nama Balai Penelitian Perkebunan Bogor diubah menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Bogor. Dalam upaya untuk melaksanakan penelitian bioteknologi perkebunan secara terpadu dan efisien, pada tahun 1993 Pusat Penelitian Perkebunan Bogor diubah menjadi Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan. Dengan gedung, fasilitas, dan SDM yang masih sama, akhirnya, pada tahun 1996 lembaga penelitian yang sebelumnya pernah memiliki nama besar di Indonesia diubah menjadi Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan (UPBP), sebuah lembaga yang secara de jure hilang dari struktur organisasi resmi. Lalu pada tahun 2003 lembaga ini berganti nama menjadi Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan.
Program Bioteknologi tanaman juga sudah dimasukan ke dalam peraturan yang tetap pada masa presiden Soeharto. Menurut Swastika et al (2008) pada tahun 1983 sudah diterapkan juga agenda penting program bioteknologi nasional. Selain itu, GBHN tahun 1993 dalam Pelita VI, sasaran Bidang Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyatakan bioteknologi dimasukkan dalam Kebijaksanaan Nasional sebagai suatu bidang Iptek yang perlu dikembangkan. Beberapa produk biotek tanaman yang menjadi target pada masa ini adalah penciptaan tanaman baru yang dapat menghasilkan pupuk sendiri, tanaman yang tahan kekeringan, kebekuan, salinitas tinggi dan tekanan-tekanan lingkungan lainnya, substansi yang dapat mempercepat pertumbuhan ternak, vaksin untuk ternak, dan makanan ternak dengan harga yang lebih murah. (Pokatong, 2009).
Perkembangan biotek tanaman Indonesia memiliki prinsip pengawasan yang sama seperti yang terdapat di negara-negara maju dengan organisasi FDA. Walaupun perkembangan bioteknologi sedikit lambat namun setiap produk yang dihasilkan akan tetap melalui uji sebelum di pasarkan.
Di Indonesia, terdapat Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) memiliki fungsi yang sama dengan FDA di Amerika Serikat. Badan ini mengawasi kelayakan keamanan dari produk-produk makanan yang beredar di pasaran serta sebagai filter terhadap produk-produk baru yang masuk ke pasaran Indonesia. Peran Departemen Kesehatan juga ikut memperkuat posisi BPOM dengan pengeluaran izin terhadap suatu produk makanan. (Junaedi, 2010).
Kinerja BPOM ini tak terlepas juga dari pemberlakuan peraturan pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan dan Menteri Ketahanan Pangan dan Hortikultura No.998.1/Kpts/OT.210/9/99;790a/Kpts-IX/1999;1145A/MENKES/SKB/IX/1999; 015A/ NmenegPHOR/09/1999 tentang Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Pertanian Rekayasa Genetika (PPHRG/PRG). (Swastika, 2008)

BAB III. PRODUK BIOTENOLOGI TANAMAN
NEGARA MAJU DAN INDONESIA

3.1. Produk Bioteknologi Tanaman Negara Maju di dunia
Bioteknologi berdasarkan penggunaan peralatan dan tingkat pengetahuan yang dikembangkan terbagi atas dua yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Dua tipe bioteknologi tersebut masih tetap berkembang hingga saat ini. Beberapa contoh bioteknologi konvensional adalah teknik hibridisasi (persilangan), teknik hidroponik, teknik aeroponik, dan sebagainya. Adapun biotek modern sangat berkembang di masa sekarang, terutama negara-negara maju.
Menurut Reis et al (2004), ada beberapa daftar dan produk bioteknologi yang sudah muncul dan berkembang pada negara-negara anggota biotek Eropa.
1. Daftar bioteknologi : biotek tanaman, biotek hewan, biotek lingkungan, biotek industri, biotek pabrik sel, pengembangan diagnostik manusia/hewan/sistem terapeutik, dan pengembangan biotek dasar
2. Produk Bioteknologi: Biocatalisis, biotek biokimia, biofiltrasi, bioproses, bioremediasi, budaya sel, fusi sel, kiral sentesis, teknik kloning, kimia kombinatorial, DNA probe, DNA sekuens, sintesis DNA/RNA, elektroforesis protein, elektroforesis DNA/RNA, protein sekuens, sintesis protein, fusi protoplast, pemurnian / pemisahan DNA / RNA, pemurnian / pemisahan biomolekul lainnya, pemurnian / pemisahan protein, teknologi enzim, teknologi fermentasi, genom fungsional, gen amplifikasi / PCR , terapi gen, genetic fingerprinting, high throughput screening, laboratorium robotika, marker teknologi (DNA, RNA), massa spektroskopi, metabolik rekayasa, mikromanipulasi, mikropropagasi, uji hewan model, molekul biotyping, pemodelan molekul, monoklonal antibodi, spektroskopi NMR, protein array, protein engineering, DNA rekombinan, hibridisasi somatik, genomik struktural, kultur jaringan, rekayasa jaringan dan xenotransplantation.
Adapun negara-negara yang tergabung ke dalam anggota bioteknologi Eropa adalah; Denmark, Swedia, Finlandia, Belanda, Inggris, Belgia, Jerman, Austria, Perancis, Irlandia, Italia, Spanyol, Portugal dan Yunani.
Dari sekian banyak produk bioteknologi modern dari negara-negara anggota biotek Eropa, teknik rekayasa genetika, kultur jaringan, dan DNA rekombinan sangat umum dilakukan untuk menghasilkan produk-produk transgenik yang merupakan salah satu produk bioteknologi modern. Jeleniae (2004) menyebutkan terdapat 70 varietas tanaman transgenik yang sudah disetujui untuk di pasarkan sejak dua dekade terakhir.
Papatryfon et al (2007) dalam analysis report tentang kebijakan Eropa dalam pengembangan bioteknologi modern menyatakan perkembangan bioteknologi tidak ada hanya pada industri obat-obatan, kertas, kesehatan dan makanan saja tapi juga dapat ditemukan pada sekolah-sekolah dasar produksi (pertanian, perikanan dan peternakan) dan tanaman pangan.
Negara China juga tak kalah bersaing dengan negara-negara anggota biotek Eropa. Dari sisi bioteknologi tanaman, negara ini termasuk empat negara besar yang memiliki kemajuan yang cukup tinggi. Sebagian produk ada yang sudah dipasarkan dan sebagian lain ada yang masih tahap menunggu izin pemasaran. (Gale et al, 2003)
Pada tahun 1999, China sudah mempunyai tanaman transgenik untuk kapas sebanyak 13 varietas, dua diantaranya sudah dipasarkan. Beras sebanyak 16 varietas. Gandum satu varietas, jagung, dua varietas, kedelai dua varietas, kentang dua varietas, dan Brassica napus dua varietas. Tembakau 4 varietas dan satu diantaranya sudah di pasarkan. Kacang satu varietas dan kubis satu varietas. Tomat 5 varietas, satu diantaranya sudah dipasarkan. Sweet pepper dua varietas, satu diantaranya sudah dipasarkan. Petunia dua varietas, satu diantaranya sudah dipasarkan. Dan tanaman lainya sebanyak 6 varietas.
(Gale et al cit Huang et al, 2003)
3.2. Produk-Produk Bioteknologi Indonesia.
Menurut Plantus cit Sutrisno (2010), jika dibandingkan perkembangan bioteknologi Indonesia dengan negara-negara maju, posisi Indoensia masih tertinggal dengan jarak dua gelombang. Negara-negara maju saat ini, bioteknologinya sudah masuk ke tahap gelombang ketiga dimana teknologi rekayasa genetika sudah ditujukan untuk memperkaya kandungan nutrisi tanaman. Sedangkan pada gelombang pertama, rekayasa genetik ditujukan agar tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Gelombang kedua untuk mengembangkan tanaman kesehatan. Posisi Indonesia baru dianggap pada gelombang kedua.
Bioteknologi Indonesia saat ini sedang mengembangkan padi yang tahan terhadap tanah masam dan mengandung alumunium tinggi. Sehingga padi tersebut sangat cocok di lahan-lahan marginal seperti lahan gambut. Teknik Marka molekuler (penanda molekuler) untuk menyeleksi sifat yang diinginkan dari keturunan hasil persilangan juga sudah dikembangkan. Metode ini melakukan pelacakan sifat-sifat tanaman berdasarkan DNA yang dimiliki tanaman.
Pada tanaman jagung marka molekuler digunakan untuk mengetahui jarak genetik (hubungan kekerabatan) jagung. Dengan begitu, para pemulia menjadi lebih mudah dalam melakukan persilangan. Sebagai contoh pemulia mudah untuk merakit tanaman jagung yang tahan bule (penyakit daun bilur putih). Penelitian ini bekerja sama dengan Balai Penelitian Serealia (Balitisereal), Maros, Sulawesi Selatan.
Metode kultur jaringan juga sudah berkembang di Indonesia. Metode itu banyak digunakan untuk memproduksi tanaman secara massal. Selain itu juga dikembangkan metode penyimpanan plasma nutfah secara ex situ. Plasma nutfah akan disimpan pada suhu minus 180 derajat Celsius dengan menggunakan metode kriopreservasi (menggunakan nitrogen cair).
Teknologi Fusi Protoplast juga sudah cukup berkembang. Dengan teknologi tersebut perkawinan yang terjadi sudah antarprotoplast (antar isi sel). Contohnya, sifat tahan penyakit pada terong liar dipindahkan pada terong budidaya. Saat ini juga sedang dikembangkan padi yang tahan terhadap cekaman biotis (tahan hama penyakit) dan abiotis (tahan kekeringan). (Plantus, 2010)
Selain itu beberapa penelitian biotek tanaman yang sudah membuahkan hasil adalah di antaranya padi tahan penyakit penggerek batang, kedelai tahan penggerek polong, dan jagung tahan penggerek batang. Juga sudah dihasilkan varietas kacang tanah yang tahan terhadap virus dan pepaya yang tahan kemasakan (tidak cepat busuk).
Sedangkan untuk konservasi terdapat laboratorium Bank Genetik yang menyimpan ribuan specimen plasma nutfah. Di antaranya padi (3.500 buah), jagung (875), kedelai (950), kacang tanah (1.200), kacang hijau (1.000), ubi jalar (1.430), dan ubi kayu (560).
Menurut Donald (2009), bioteknologi tanaman Indonesia seperti pertanian dan produksi pangan sudah dirintis secara matang untuk dikembangkan dengan target :
1. Penciptaan tanaman baru yang dapat menghasilkan pupuk sendiri
2. Tanaman yang tahan kekeringan, kebekuan, salinitas tinggi dan tekanan-tekanan lingkungan lainnya
3. Substans yang dapat mempercepat pertumbuhan ternak
4. Vaksin untuk ternak
5. Makanan ternak dengan harga yang lebih murah
Harapan yang ditargetkan tersebut masih belum tercapai secara maksimal. Menurut BPPT, hasil PELITA VI terkait penerapan dan pemanfaatn bioteknologi di Indonesia, secara rata-rata masih jauh tertinggal dari negara maju. Bahkan menurut Swastika (2008), kegiatan bioteknologi modern di bidang pertanian baru sebatas penelitian laboratorium di lembaga-lembaga penelitian dan universitas, sama sekali sangat sedikit yang menyentuh dunia pasar.
Produk bioteknlogi tanaman yang baru menyentuh dunia pasar seperti; biopestisidan, enzim, tanaman herbisida resistan dan beberapa jenis lainnya. Yang belum terlihat sesuai target adalah tanaman tahan kekeringan, kebekuan, dan salinitas toleran.

BAB IV. FAKTOR PENTING YANG MEMPENGARUHI
KEMAJUAN BIOTEKNOLOGI TANAMAN INDONESIA

Perkembangan bioteknologi tanaman di Indonesia diakui oleh para ahli berlangsung secara lamban. Kalaupun ada dilakukan penelitian-penelitian terkait bioteknologi tanaman, itupun baru berlangsung sebatas tingkat penelitian laboratorium di lembaga-lembaga penelitian ataupun universitas.
Ada beberapa faktor penting yang menjadi berpengaruh sehingga menyebabkan bioteknologi tanaman di Indonesia kurang begitu berkembang:
1.Kurang maksimalnya dukungan pemerintah.
Pemerintah sangat berperan penting dalam menyukseskan kemajuan bioteknologi tanaman di Indonesia. Dukungan pemerintah tidak hanya dilakukan sebatas peraturan saja tapi finansial dan peningkatan SDM yang ahli terkait bioteknologi tanaman juga sangat dibutuhkan. Pemerintah China bahkan menginvestasikan anggaran untuk pengembangan biotek tanaman sejak tahun 1990-1999 terus mengalami peningkatan dua ka lipat. Informasi terakhir menyebutkan angka investasi mencapai $ 112.000.000.
Harapan lain bagi peneliti bioteknologi di Indonesia adalah realisasi dari UU No 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian Pengembangan dan Penerapan Iptek. Dalam UU itu disebutkan bahwa pemerintah pusat, Pemda, dan masyarakat termasuk badan usaha wajib mengalokasikan anggaran untuk penelitian dan pengembangan, baik untuk kepentingan spesifiknya sendiri, maupun kepentingan regional dan nasional. Dengan demikian kendala dana yamg selama ini menghambat kemajuan pengembangan Iptek bisa segera terselesaikan. (Plantus, 2010).
Disisi lain dukungan dari pihak perbankan juga sangat diharuskan. LIPI (2010) menyatakan pengembangan bioteknologi terkendala salah satunya karena kurangnya dukungan pihak perbankan kepada pihak industri yang mengolah produk-produk pertanian.
2. Kurangnya Perlindungan Kekayaan Intelektualitas.
Masih banyaknya produk-produk bioteknologi Indonesia yang tidak dipatenkan telah menyebabkan sebagian produk Indonesia jatuh ke tangan asing. Saat ini banyak paten produk asli Indonesia jatuh di tangan bangsa lain seperti; lebih dari 10 paten mengenai pengolahan rotan terdaftar atas nama USA, paten makanan tradisional tempe dimiliki oleh Jepang, Belanda dan Jerman.
3. Tekanan Global
Isu-isu global yang dihembuskan negara maju seperti isu HAM, demokrasi, lingkungan hidup dapat mengganggu produksi dan perdagangan produk-produk yang berbasis SDA. Juga dalam penerapan standar internasional dan penerapan ISO 14000 tentang manajemen lingkungan hidup, Hazard Analytical Critical Control Point tentang manajemen keamanan pangan dapat merupakan hambatan bagi dunia usaha bioteknologi Indonesia yang belum sepenuhnya siap menghadapi hal tersebut.
4. Pertumbuhan Penduduk Yang Tinggi
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi dapat menjadi beban pemerintah untuk mengembangkan pemenuhan kebutuhan produk-produk pertanian dan kepemilikan lahan.
Faktor-faktor penting tersebut membutuhkan solusi konkret yang paling utama sekali adalah komitmen dari kebijakan pemerintah terhadap pengembangan bioteknologi, khususnya dalam hal pengembangan bioteknologi tanaman.

BAB V. PENUTUP
Perkembangan bioteknologi tanaman di Indonesia masih sangat lambat dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Indonesia masih berada pada gelombang pertama yaitu produk bioteknologi masih terfokus pada mengatasi permasalahan hama dan penyakit tanaman. Negara-negara maju di dunia seperti Amerika, Eropa dan China sudah berada pada gelombang ketiga dimana fokus produk bioteknologi sudah berorientasi menambah kekayaan nutrisi tanaman.
Ada beberapa faktor penting yang menyebabkan lambatnya kemajuan bioteknologi di Indonesia, termasuk bioteknologi tanaman.
1. Kurangnya dukungan pemerintah
2. Kurangnya perlindungan kekayaan intelektualitas
3. Tekanan Global
4. Pertumbuhan Penduduk yang tinggi.
Faktor-faktor penting tersebut membutuhkan solusi konkret yang paling utama sekali adalah komitmen dari kebijakan pemerintah terhadap pengembangan bioteknologi, khususnya dalam hal pengembangan bioteknologi tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Defri. 2010. Sejarah dan Perkembangan Bioteknologi.http//www.  id.shvoong.com
Diah, Diaz.2007.Sejarah Bioteknologi.http//www. //b3-5tr0ng.blogspot.com
Gale, Fred,dkk.2010.Is Biotechnology in China’s Future ? http://www.reap.ucdavis.edu.
Jelenic. 2005. Food Safety Evaluation Of Crops Produced Through Genetic Engeneering – How To Reduce Unintended Effects ?. http//:www. hrcak.rsce.hr
Junaidi, Wawan. 2010. Resiko dan Dampak Dalam Mengkonsumsi Tanaman Transgenik
LIPI.2010. Peluang dan Tantangan. http//.www.biotek.lipi.go.id
Papatryfon, Illias, dkk. 2007. Analysis report: Consequences,Opportunities, and Challenges of Modern Biotchnology For Europe.http//:www/jrc.ec.europe.eu
Plantus.2010.Bioteknologi Indonesia baru menuju gelombang kedua. http//.www.anekaplanta.wordpress.com
Pokatong, Donald R.2009. Bioteknologi : Ekspetasi, Realita dan Kendala. Http//www.angelfire.com
Priadi, Arif.2009. Biologi.Yudhistira
Reiss, Thomas,dkk. 2004. Performance EU on Member States In Biotechnology. Science and Public Policy Volume 31. Number 5. October 2005. http://www.ingentaconnect.com
Swastika, Dewa KS, dkk.2008.Kebijakan Produksi dan Peredaran Produk Pertanian Hasil Rekayasan Genenik (PRG) Di Indonesia. Journal Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 6. No.2. Bogor.
Wikipedia.2010. Bioteknologi. http://id.wikipedia.org
Wikipedia.2010. Pertanian. http://id.wikipedia.org

.

Tentang rijalazam

I am a biologist Like about all problem on biology not just that, but I also have hobbies as jurnalist, politikus, teacher, religius and trainer motivation. Like it if can do all that !!! Gombate!!! Happy to introduce u, SUNANDAR,S.Si
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s